Tuesday, August 30, 2016

ANDA SEORANG MUSLIM…?INILAH PRINSIP HIDUP ANDA!

Disaat semua orang bingung, dengan model bagaimanakah saya hidup…

Ketika semua orang linglung, dengan prinsip hidup bagaimanakah saya pakai…

Islam dengan segala kesempurnaannya telah lama menghadirkan prinsip hidup seorang muslim yang begitu sempurna…dengan semua makna kesempurnaan…Allahu Akbar!!!

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:

1. PILIH YANG PALING MUDAH SELAMA BUKAN DOSA DAN YANG PALING MUDAH PASTI DARI ISLAM

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلاَّ أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ

Artinya: “’Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita: “Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dipilihkan antar dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah dari keduanya, selama itu bukan dosa, jika itu dosa, maka beliau manusia yang paling jauh dari dosa.” HR. Bukhari dan Muslim.

{يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ} [البقرة: 185]

Artinya: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” QS. Al Baqarah: 185.

{مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ } [المائدة: 6]

Artinya: “Allah tidak hendak menyulitkan kamu.” QS. Al Maidah: 6.

– Contoh dari permasalahan akidah: Menyembah hanya Allah semata lebih mudah daripada menyembah banyak sembahan

– Contoh dari permasalahan ibadah: Beribadah sesuai dengan hanya mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih mudah dibandingkan beribadah dengan mencontoh banyak orang yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

– Contoh dari permasalahan mu’malah: Berdagang yang jujur lebih mudah daripada tidak jujur dan menutup-nutupi keburukan barang atau lainnya.

– Contoh dalam tingkah laku: Berkata yang benar meskipun pahit lebih baik daripada menutupi terus-menerus di dalam kebatilan.

Silahkan cari contoh yang lain…

2. JANGAN MELAKUKAN KESALAHAN YANG SAMA DUA KALI

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang Mukmin tidak terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali.” HR. Bukhari dan Muslim.

– Contoh permasalahan akidah: jika sudah tahu bahwa selain Allah Ta’ala tidak pernah bisa mendengar permohonan kita, maka jangan pernah meminta/memohon kecuali kepada Allah

– Contoh permasalahan ibadah: jika gara-gara begadang maka ketinggalan shalat shubuh, maka jangan pernah begadang.

– Contoh permasalahan mu’amalah: Jika pernah diberi amanah memegang uang tidak amanah, maka jangan pernah menerima amanah itu.

– Jika pernah berhutang dan malas bayar padahal sudah mampu, maka jangan pernah berhutang

– Contoh permasalahan tingkah laku: jika orangtua sekarang tidak bisa baca Al Quran dan tidak banyak ilmu agama karena malas belajar agama, maka jangan tularkan itu kepada keturunannya.

Silahkan cari contoh yang lain.

3. MERASA SANGAT RUGI JIKA KETINGGALAN KESEMPATAN UNTUK BERIBADAH

عن نَافِعٌ قَالَ قِيلَ لاِبْنِ عُمَرَ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « مَنْ تَبِعَ جَنَازَةً فَلَهُ قِيرَاطٌ مِنَ الأَجْرِ ». فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ أَكْثَرَ عَلَيْنَا أَبُو هُرَيْرَةَ. فَبَعَثَ إِلَى عَائِشَةَ فَسَأَلَهَا فَصَدَّقَتْ أَبَا هُرَيْرَةَ فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ لَقَدْ فَرَّطْنَا فِى قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ.

Artinya: “Nafi’ rahimaullah berkata: “Dikatakan kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku Mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang telah mengikuti jenazah maka baginya satu qirath (gunung) pahala.” Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan terlalu banyak untuk kita”, lalu beliau pergi menemui Aisyah radhiyallahu ‘anha dan bertanya (tentang hadits) dan ternyata ‘Aisyah membenarkan Abu Hurairah, maka Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh, kita telah melalaikan bergunung-gunung pahala yang sangat banyak.” HR. Muslim.

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah:

وفيه دلالة على فضيلة بن عمر من حرصه على العلم وتاسفه على ما فاته من العمل الصالح

Artinya: “Di dalam hadits ini menunjukkan keistimewaan Ibnu Umar radhiyiallahu ‘anhuma dari keinginan kuat atas ilmu dan perasaan merasa rugi atas apa yang tertinggal darinya berupa amal shalih.” Lihat kitab Fath Al Bary.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – وَهَذَا حَدِيثُ قُتَيْبَةَ أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ. فَقَالَ « وَمَا ذَاكَ ». قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلاَ نُعْتِقُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ ». قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ مَرَّةً ». قَالَ أَبُو صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatakan bahwa kaum miskin dari kaum fakir Muhajirin mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka mengadu: “Orang-orang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan nikmat yang abadi”, lalu Rasulullah bertanya: “Kenapa demikian?”, orang-orang fakir berkata: “Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana mereka berpuasa, mereka bersedekah tapi kami tidak bersedekah, mereka memerdekakan dan kami tidak memerdekakan”, maka rasulullah berkata: “Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang kalian dengan akan menyamai orang sebelum kalian dan mendahului orang setelah kalian dan tidak ada seorangpun yang lebih utama daripada kalian kecuali seorang yang berbuat seperti apa yang kalian perbuat.” Mereka berkata: “Tentu mau, wahai Rasulullah”, lalu beliau bersabda: “Kalian ucapkan subhanallah, alhamdulillah dan allahu akbar setiap akhir shalat sebanyak 33, 33, 33 kali”, Abu Shalih berkata: “Maka kaum muhajirin kembali lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, mereka berkata: “Kawan-kawan kami dari orang yang banyak harta mendengar (bacaan kami) maka mereka berbuat seperti apa yang kami kerjakan”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itulah kelebihan Allah yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendakinya.” HR. Bukhari dan Muslim.

LIHAT BAGAIMANA ORANG-ORANG FAKIR DARI KAUM MUHAJIRIN MERASA RUGI KETIKA TIDAK MAMPU UNTUK BERSEDEKAH SEBAGAIMANA ORANG-ORANG KAYA.

Contoh:

– Merasa rugi jika ketinggalan shalat berjamaah karena di dalamnya; ketinggalan pahala pergi ke masjid yaitu satu langkah diganjar pahala, satu langkah dihapuskan dosa, satu langkah diangkat derajat, ketinggalan pahala menjawab adzan yaitu mendapatkan syafaat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketinggalan pahala shalat qabliyyah yaitu mendapat sebuah rumah di dalam surga, ketinggalan kesempatan berdoa antar adzan dan iqamah yang tidak ada penghalang antaranya dengan Allah Ta’ala, ketinggalan pahala menunggu shalat yaitu didoakan oleh para malaikat, ketinggalan pahala shalat berjamaah yaitu 27 derajat dibandingkan shalat sendirian, ketinggalan pahala mendapatkan takbiratul ihram imam yaitu terlepas dari dua sifat, sifat kemunafikan dan sifat siksa neraka.

Contoh lain…silahkan cari sendiri…

4. LAKUKAN SEGALA AKTIVITI HIDUP DUNIA TUJUANNYA ADALAH MASUK SURGA JAUH DARI API NERAKA

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فِى سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْماً قَرِيباً مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَخْبِرْنِى بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِى الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِى مِنَ النَّارِ . قَالَ « لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ – ثُمَّ قَالَ – أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ ». ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى (تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ) حَتَّى بَلَغَ (يَعْمَلُونَ) ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ». فَقُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ « رَأْسُ الأَمْرِ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ – ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمِلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ». فَقُلْتُ لَهُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ.

فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ فَقَالَ « كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ « ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ عَلَى وُجُوهِهِمْ فِى النَّارِ – أَوْ قَالَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ – إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ».

Artinya: “Mu’adz bin Jabal pernah berkata: “Aku pernah bersama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sebuah perjalanan, suatu pagi aku dekat dengan beliau ketika itu kita lagi dalam perjalanan, lalu aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, beritahukanlah kepadaku akan sebuah amalan yang akan memasukkanku ke dalam surga da menjauhkanku dari neraka.” Beliau menjawab: “Sungguh kamu telah bertanya tentang yang agung dan sesungguhnya hal itu sangat mudah bagi siapa yang dimudahkan Allah atasnya, yaitu kamu beribadahlah kepada Allah tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan haji, kemudian beliau berkata: “Maukah aku tujukan kepada pintu-pintu kebaikan?, puasa adalah benteng, sedekah akan menghapuskan dosa, dan shalat seseorang pada malam hari…”. HR. Ahmad.

عن رَبِيعَةُ بْنُ كَعْبٍ الأَسْلَمِىُّ قَالَ كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِى « سَلْ ». فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ « أَوَغَيْرَ ذَلِكَ ». قُلْتُ هُوَ ذَاكَ. قَالَ « فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ ».

Artinya: “Rabi’ah binKa’ab Al Asalamy radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku datang membawa wudhu dan hajat, lalu beliau berkata: “Mintalah”, maka akupun berkata: “Aku memohon kepadamu agar bisa bersamamu di dalam surga”, beliau bertanya: “Adakah yang lain?”, aku berkata: “Itu saja”, beliau bersabda: “Maka tolonglah aku atas dirimu dengan banyak sujud”. HR. Muslim.

LIHATLAH…BAGAIMANA PERMINTAAN MUADZ DAN RABI’AH radhiyallahu ‘anhuma YANG MENUNJUKKAN BAHWA ORIENTASI MEREKA ADALAH MASUK SURGA JAUH DARI API NERAKA.

5. MENINGGALKAN SESUATU YANG TIDAK BERMANFAAT, TERUTAMA TIDAK MANFAAT DI KEHIDUPAN AKHIRAT.

عنْ عَلِىِّ بْنِ حُسَيْنٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكَهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ ».

Artinya: “Ali bin Husain radhiyallahua ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” HR. Tirmidzi.

Contoh:

– Jika berkata-kata mendatangkan dosa, maka lebih baik diam

– Jika keluar rumah mendatangkan dosa, maka lebih baik diam di dalam rumah kecuali harus keluar rumah maka harus jaga pandangan dan seluruh anggota tubuh shingga tidak mendatangkan dosa. Wallahu a’lam.

sumber https://peribadirasulullah.wordpress.com

Monday, August 29, 2016

Yang Makruh Dikerjakan Dalam Berwudhu'


Soalan:
Assalamualaikum wr. wb.

Ustaz yang dirahmati Allah SWT.

Sila membenarkan saya mau tanya berkaitan dengan hal-hal apa saja yang makruh hukumnya untuk dikerjakan ketika kita sedang berwudhu '. Mohon penjelasan dari antum berkaitan hal-hal itu.

Terima kasih

wassalam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Di antara perbuatan yang hukumnya makruh atau kurang disukai ketika melakukan wudhu 'antara lain:

1. Wudhu Sambil Berbicara
Para ulama memakruhkan wudhu 'bila dilakukan sambil berbicara, kecuali bila memang ada keperluan yang penting dan mendesak.

Mazhab Al-Hanafiyah dan Asy-Syafi'iyah menyebutkan bahawa termasuk mustahab adalah meninggalkan perbualan ketika sedang berwudhu '. Dan mazhab Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah tegas menyebutkan bahawa makruh hukumnya bila bercakap-cakap sambil berwudhu '. [1]

Memberi Salam dan Menjawab soalan

Para ulama berbeza pendapat bila dalam kes memberi salam atau menjawabnya, yang dilakukan ketika seseorang sedang berwudhu '.

Sebahagian ulama berpendapat bahawa bercakap-cakap berbeza dengan memberi atau menjawab salam. Orang yang sedang berwudhu tetap disunnahkan untuk memberi atau menjawab salam. Dasarnya adalah amalan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW:

أَنَّ أَمَّ هَانِئٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا سَلَّمَتْ عَلَى النَّبِيِّ  وَهُوَ يَغْتَسِل ، فَقَال : مَنْ هَذِهِ ؟ قُلْتُ : أَمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِي طَالِبٍ ، قَال : مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ

Bahawa Ummu Hani 'radhiyallahuanha memberi salam kepada Rasulullah SAW yang sedang mandi. Beliau SAW bertanya, "Siapakah anda?". Aku (Ummu Hani ') menjawab, "Saya Ummu Hani' bintu Abi Talib". Beliau SAW menjawab, "Selamat datang wahai Ummu Hani '. (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun ada juga pendapat yang tetap memakruhkan orang yang sedang berwudhu 'untuk memberi salam atau menjawabnya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Abu Al-Faraj dari kalangan ulama mazhab Al-Hanabilah. [2]

2. Membasuh leher
Umumnya para ulama berfatwa bahawa termasuk perkara yang makruh untuk dikerjakan oleh orang yang sedang berwudhu adalah membasuh leher.

Mazhab Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah memandang bahawa perbuatan membasuh leher bukan termasuk bahagian dari ritual wudhu '.

Al-Imam An-Nawawi menyebutnya sebagai bid'ah. Sedangkan mazhab Al-Maliki menyebutkan bahawa perbuatan itu termasuk ghuluw atau melebih-lebihkan agama, yang tidak ada dasarnya dari sunnah Rasulullah SAW. [3]

Namun ada juga sebahagian kecil ulama yang memandang bahawa membasuh leher termasuk bahagian dari sunnah. Namun pandangan ini agak menyendiri dan tidak banyak diluluskan oleh kebanyakan ulama.

3. Membasuh Kepala Tiga Kali
Yang disyariatkan dalam wudhu dalam mengusap kepala hanya satu kali usapan sahaja. Sehingga bila ada yang mengusapnya tiga kali atau lebih, hukumnya makruh menurut para ulama, kerana tidak ada dasarnya.

Hal itu dituliskan dalam mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah dan Al-Hanabilah. [4]

4. Membazir Air
Meski pun seseorang berwudhu di sungai yang airnya berlimpah, namun sikap boros dan berlebihan dalam menggunakan air ketika wuduk tetap merupakan perbuatan yang makruh hukumnya. Apalagi bila dalam keadaan biasa atau malah kurang air.

Dasarnya adalah hadits berikut ini:

أَنَّ رَسُول اللَّهِ  مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَال : " مَا هَذَا السَّرَفُ ؟ " فَقَال : أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ ؟ فَقَال : " نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهْرٍ جَارٍ

Rasulullah SAW berjalan melewati Saad yang sedang berwudhu 'dan menegurnya, "Kenapa kamu boros memakai air?". Sa'ad balik bertanya, "Apakah untuk wudhu 'pun tidak boleh boros?". Beliau SAW menjawab, "Ya, tidak boleh boros meski pun kamu berwudhu di sungai yang mengalir. (HR. Ibnu Majah)

Hadis yang sahih menyebutkan bahawa Rasulullah SAW berwudhu tidak lebih dari satu sha 'air, yaitu kurang lebih 660 ml:

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ  يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

Dari Anas r.a dia berkata bahawa Rasulullah SAW berwudlu dengan satu mud air dan mandi dengan satu sha 'hingga lima mud air. (HR. Bukhari Muslim)

5. Wudhu di Tempat Yang Tidak Suci
Di antara perbuatan yang hukumnya makruh untuk dikerjakan pada ketika berwudhu adalah berwudhu 'di tempat yang tidak suci. Sebab tujuan wudhu 'adalah bersuci, maka makruh hukumnya berwudhu tidak tempat yang tidak suci.

Para ulama dari empat mazhab sepakat memakruhkan wudhu di tempat yang tidak suci atau bernajis. Oleh kerana itulah kita lebih sering menyaksikan bahawa tempat wuduk dibuatkan terpisah dari wc atau tempat buang air.

6. Mengeringkan Bekas Air Wudhu ': Makruhkah?
Para ulama sebenarnya berbeza pendapat tentang hukum mengeringkan bekas air wudhu. Sebahagian memakruhkannya namun sebahagain malah menganggapnya sunnah.

a. makruh

Mereka yang berpendapat hukumnya makruh untuk mengeringkan bekas sisa air wudhu 'berhujjah bahawa nanti di hari kiamat, umat Nabi Muhammad SAW dikenali dari bekas sisa air wudhu'.

Dasarnya adalah hadits berikut ini:

إن أمتي يدعون يوم القيامة غرا محجلين من آثار الوضوء فمن استطاع منكم أن يطيل غرته فليفعل

Sungguh ummatku akan diseru pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya kerana bekas wudhu'nya. Maka siapa yang mampu melebihkan panjang sinar pada tubuhnya, maka lakukanlah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh kerana itu, dalam pandangan mereka, bekas sisa air wudhu 'hukumnya makruh bila cepat-cepat kering.

Di antara para ulama yang memakruhkannya adalah mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah. Mazhab Al-Hanabilah menyebutkan bahawa meninggalkan bekas sisa air wudhu pada badan merupakan keutamaan.

b. Sunnah

Sebaliknya mazhab Al-Hanafiyah memandang bahawa mengelap atau mengeringkan bekas sisa air wudhu 'hukumnya sunnah. Dasarnya kerana Rasulullah SAW pernah berbuat demikian.

أن النبي توضأ ثم قلب جبة كانت عليه فمسح بها وجهه

Bahawa Nabi SAW berwudhu kemudian beliau membalik jubbahnya dan mengusapkannya pada wajahnya. (HR. Ibnu Majah).

Selain dalil fi'liyah yang dilakukan langsung oleh Rasulullah SAW di atas, mereka yang menyokong pendapat ini juga memandang bahawa mengusap bekas sisa air wudhu itu seperti menghilangkan dosa. Sebab di hadis yang lain disebutkan bahawa wudhu 'itu merontokkan dosa. Secara logiknya, sisa bekas air wudhu itu dianggap mengandung dosa, sehingga harus segera dibersihkan.

Dalilnya sebagai berikut:

Apabila seorang hamba yg muslim atau mukmin itu berwudhu di mana sewaktu ia membasuh mukanya, maka keluarlah semua dosa yg dilihat dengan kedua matanya dari mukanya bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan titisan air yg terakhir. Jika ia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah semua dosa yg diperbuat oleh kedua tangannya itu bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan titisan air terakhir. Dan jika ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah semua dosa yg diperbuat oleh kedua kakinya itu bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama dengan titisan air yg terakhir, sehingga ia benar-benar bersih dari semua dosa. (HR. Muslim).

Perhatikan lagi sabda Rasulullah berikut ini:

Mahukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yg mana dengan sesuatu itu ALLAH akan menghapuskan dosa-dosa kalian dan dengan sesuatu itu pula ALLAH akan mengangkat kamu beberapa darjat? "Para sahabat menjawab," Iya, wahai Rasulullah. "Nabi bersabda," Yaitu menyempurnakan wudhu atas hal-hal yg tidak disukai, memperbanyak langkah ke masjid-masjid dan menantikan solat sehabis solat. Maka itulah yang dinamakan ar-Ribath (mengikatkan diri dalam ketaatan) (HR. Muslim)

kesimpulan:

Lalu kita pakai yang mana dari dua pendapat di atas?

Begitu biasanya soalan selanjutnya dari para penanya, apabila saya menjawab masalah yang khilafiyah dengan memaparkan semua pilihan fatwa dilengkapi dengan dalil-dalilnya.

Biasanya saya akan menjawab dengan mudah, sila pakai pendapat yang mana saja yang anda cenderung untuk memakainya. Toh, semua pendapat itu sama-sama didasari dengan dalil-dalil yang sahih, plus juga merupakan hasil ijtihad para fuqaha dan mujtahidin yang memang ahli di bidangnya serta mempunyai pihak berkuasa yang tepat.

Sehingga pilihan mana-mana yang anda pilih, sudah dijamin tidak akan menjadi dosa atau celaka.

Namun terkadang, tetap saja pihak penanya suka penasaran, lalu menyampaikan pertanyaan lagi, "Kalau Ustaz sendiri pilih yang mana?".

Biasanya kalau sudah sampai di sini saya suka menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

[1] Al-Fatawa Al-Hindiyah, jilid 1 hal. 8

[2] Al-Inshaf, jilid 1 hal. 38

[3] Ad-Durr Al-Mukhtar wa Ar-Radd Al-Muhtar, jilid 1 hal. 84

[4] Asy-Syarhu Al-Kabir ma'a Hasyiatu Ad-Dasuqi, jilid 1 hal. 89-90

sumber http://www.rumahfiqih.com/

KAJIAN BANK YANG MENCURIGAKAN


Bagaimana bank mendapat data urusan kewangan zaman-zaman terdahulu.

Bank of America tidak mengubahsuai laporan ini dan ia dikira sahih.

(Sumber) Laporan Global Investment Strategy, Bank of America Merrill Linch, 7 Jun 2016, ms. 1

sumber https://www.facebook.com/IbnuyaacobTeoriKonspirasi

Bersedekah Tidak Semestinya Dengan Harta Sahaja


Bersedekah tidak semesti dengan harta sahaja

Mungkin ramai di kalangan kita apabila disebutkan sahaja sedekah akan membayangkan ia perlu mengeluarkan sejumlah wang atau harta. Lalu sebahagian dari kita akan merasa sempit dada kerana mungkin tidak mampu untuk memberi atau mula memberi berbagai alasan. Sinonimnya kebanyakan dari kita sememangnya begitu kerana kelaziman manusia mempunyai sifat berkira atau kedekut. Kita disarankan berbuat begitu kalau untuk melakukan kemungkaran atau berbuat dosa.

Dikisahkan di dalam sebuah hadis riwayat Muslim di dalam Kitab Zakat, beberapa orang sahabat Nabi SAW telah datang menemui baginda SAW menzahirkan rasa cemburu terhadap golongan yang kaya. Mereka merasa cemburu kerana golongan kaya itu dapat membuat pahala yang banyak kerana mampu bersedekah dengan lebihan harta mereka. Lalu apakah jawapan Rasulullah SAW terhadap mereka? “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu untuk kamu yang boleh kamu sedekahkan? Sesungguhnya bagi kamu dengan setiap kali bertasbih (mengucap Subhanallah) adalah sedekah. Setiap kali bertakbir(mengucap Allahu Akbar) adalah sedekah . Setiap kali bertahmid (mengucap Alhamdulillah) adalah sedekah. Setiap kali bertahlil (mengucap La ilah illalLah) adalah sedekah. Ajak kebaikan adalah sedekah. Cegah kemungkaran adalah sedekah. Menggauli isteri adalah sedekah.” Para sahabat terkejut kerana memuaskan nafsu juga dianggap sedekah. Lantas baginda SAW bersabda: “Apakah pendapat kamu kiranya ia memuaskan nafsunya pada yang haram? Adakah ia mendapat dosa? Begitulah sebaliknya. Jika dia memuaskan pada yang halal, maka dia mendapat pahala.”

Sungguh indah agama ini. Sangat mudah untuk membuat kebaikan. Sangat mudah mendapat pahala kebajikan. Sesungguhnya pintu-pintu kebajikan sangat luas.Di mana-mana dan pada bila-bila masa kita boleh bersedekah.

*Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil dan Melakukan Yang Halal
Sepertimana yang disebutkan di dalam hadis di atas, amalan bertasbih, bertahmid, bertakbir dan bertahlil adalah sedekah. Bahkan menggauli isteri juga adalah sedekah. Kerana apa? Kerana dengannya ia terpelihara dari perbuatan maksiat. Tambah-tambah lagi sekiranya ia berniat untuk mendapatkan zuriat yang soleh darinya. Niat telah mengubah adat menjadi ibadat. Hadis itu juga boleh memberi maksud, Allah mengganjari pahala pada apa sahaja perbuatan yang halal, Sangat mudah bukan untuk mendapat pahala? Pada hakikatnya bukan hanya amalan itu yang dianggap sedekah. Terdapat banyak lagi riwayat hadis yang menyatakan bentuk-bentuk sedekah yang lain, yang boleh kita lakukan hingga seolah-olahnya sepanjang 24 jam dalam sehari kita boleh melakukan pelbagai bentuk sedekah. Sekarang mari kita telusuri hadis-hadis di bawah untuk kita sama-sama merasai keindahan, kesyumulan dan mudahnya Islam.

*Nafkah Kepada Keluarga
Hakikatnya, setiap hari Allah telah menyediakan bagi hamba-hambanya ganjaran dan pahala kiranya digandingkan dengan keikhlasan dan niat yang baik. Bukankah setiap hari kita membelanjakan sesuatu untuk ahli keluarga kita? Di situ juga ada pahala sedekah yang Allah janjikan. Sabda Rasulullah SAW: Apabila seorang lelaki memberi nafkah kepada keluarganya dengan penuh pasrah mengharapkan redha Allah, maka baginya bernilai sedekah baginya. (Riwayat Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW juga ada bersabda; Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan sesuatu dengan tujuan mencari redha Allah melainkan engkau akan mendapat pahala kerananya, bahkan makanan yang engkau suapkan ke mulut isterimu sekalipun. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

*Sedekah Dari Hasil Tanaman
Pernahkah kita tahu sekiranya binatang memakan hasil tanaman kita, kita mendapat pahala sedekah? Dalam hal ini Rasulullah SAW ada bersabda yang bermaksud: Mana-mana muslim yang menanam tanaman, apa sahaja daripada tanamannya dimakan, dia mendapat pahala sedekah. Apa sahaja dari tanamannya dicuri, dia mendapat pahala sedekah. Apa sahaja dari tanamannya dimakan binatang buas, dia mendapat pahala sedekah. Apa sahaja dari tanamannya dimakan burung, dia mendapat pahala sedekah. Dan apa sahaja daripada tanamannya diambil seseorang, dia mendapat pahala sedekah. (Hadis riwayat Muslim)

*Tidak Melakukan Kejahatan
Dikatakan juga sebagai sedekah apabila kita menahan diri dari melakukan kejahatan. Sabda Rasulullah SAW: Sekiranya dia tidak mampu melakukan kebaikan, dia hendaklah menegah dirinya dari melakukan kejahatan. Sesungguhnya ia adalah sedekah baginya. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

*Membantu, Menasihat Serta Menggembirakan Saudaranya
Bahkan pada setiap perkara yang dibuat untuk menceriakan orang lain, memudahkan urusannya, mengajaknya ke arah kebaikan dan mencegah dari melakukan kemungkaran dan sebagainya, yang sangat mudah untuk dilakukan setiap hari, padanya Allah sediakan ganjaran. Sabda Rasulullah SAW: Senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Kamu menyuruh melakukan kebaikan dan menegah kemungkaran adalah sedekah bagimu. Kamu memberi pandu arah kepada seorang lelaki yang tersesat di suatu tempat adalah sedekah bagimu. Kamu membuang batu, duri dan tulang di jalan adalah sedekah bagimu. Kamu menuang air dari timbamu untuk diisi ke dalam timba saudaramu adalah sedekah bagimu. (Hadis riwayat Tirmizi)

Maka dengan itu, tenanglah hati-hati mereka yang tidak punyai harta yang cukup untuk bersedekah kerana Allah telah menyediakan ruang yang sangat luas untuk mereka membuat kebaikan. Namun demikian, bagi yang mempunyai harta yang lebih, kiranya mereka bersedekah dengan harta mereka dan dalam masa yang sama mereka juga melakukan amal-amal kebajikan yang banyak, maka sesungguhnya ganjaran untuk mereka sangatlah besar. Itulah kelebihan yang telah Allah kurniakan buat mereka.

Antara pengajaran lain yang boleh kita ambil dari kumpulan hadis di atas ialah;
• Zahir hadis-hadis di atas menunjukkan bahawa semua yang disebutkan adalah sedekah. Samada ia berbentuk perkataan atau perbuatan. Samada berbentuk harta mahupun bukan harta.
• Islam sangat mudah. Sedekah bukan hanya dengan harta. Bahkan dengan apa sahaja kebaikan yang kita lakukan dan apa sahaja kegembiraan yang kita berikan kepada oranglain. Bahkan ganjarannya adalah sama dengan ganjaran mereka yang bersedekah dengan harta.
• Melakukan sesuatu yang halal, padanya pahala sedekah.
• Sesiapa yang melakukan kebaikan tetap diberikan ganjaran pahala walaupun mereka melakukan tanpa tujuan dan niat sepertimana pahala yang diterima oleh seseorang yang hasil tanamannya dimakan burung atau dicuri orang.
• Ia juga menunjukkan bahawa Islam sangat menuntut umatnya supaya menjaga silaturrahim, memelihara dan menunaikan hak-hak sesama saudara. Hinggakan apa sahaja kebaikanke arah itu, dikira sebagai sedekah.

Untuk itu, marilah kita memperbanyakkan amal dan kebajikan untuk mengejar kelebihan-kelebihan yang Allah telah janjikan, dengan apa sahaja yang kita miliki dan apa sahaja yang kita mampu kerana Rasulullah SAW telah bersabda: Setiap perbuatan baik adalah sedekah. (Hadis riwayat Muslim)

Ehsan – Ustazah Suriani binti Sudi
Ahmad Irsha

sumber https://peribadirasulullah.wordpress.com/




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
p/s: Jika ada diantara blogger yang ingin bertukar pautan link dengan detikislam.blogspot.com, boleh lah pm di facebook admin.

Juga kepada blogger-blogger yang telah membuat pautan link detikislam di blog masing-masing tetapi admin masih tidak meletakkan pautan link blog saudara saudari, minta pm juga di facebook admin. Sekian, Terima Kasih

Blog's stats Jumaat 30.12.2011 bersamaan 4 Safar 1433

Back To Top
Profile Picture
©1433 Hakcipta Tak Terpelihara
Anda digalakkan untuk mengambil apa-apa bahan di dalam laman ini untuk tujuan penyebaran, tanpa perlu memberitahu kepada pihak kami. Anda digalakkan untuk memaparkan sumber asal bahan tersebut.
E-mel :@gmail.comatau Facebook :www.facebook.com/blogdetikislam